Saya lagi menggalakkan hobi mengukur waktu..
Gara-gara salah satu sahabat saya merekomendasikan suatu film,ELIZABETH TOWN.filmnya biasa kok, malah saya tidak mengerti jalan ceritanya.hehe,,maklum,bukan pengamat film (dan penerjemah yang baik).
Mungkin,film itu bagus.hanya saja saya tetap tidak mengerti,mengapa (di film itu) saat terjadi kematian,tidak ada air mata?mengapa saat kita mati,hanya beberapa orang yang benar benar merasa kehilangan dan memberikan yang terbaik selama kita hidup,sampai akhirnya kita kehilangan kehidupan..
Berangkat dari cerita itu, ada dua hal yang menarik. Saat pemakaman, istri dr pemeran yang meninggal tadi, menari tap dance (tarian dengan sepatu khusus yang menimbulkan bunyi bunyian). Dan, satu hal lainnya, mengukur jarak dengan menggunakan lagu.
Asik.
Saya jadi menemukan kesibukan baru saat berada di angkutan umum dalam perjalanan pulang. Biasanya, saya mengantuk dan tertidur ayem ayem di dalam bus. Sekarang tidak lagi, saya sibuk mengukur jarak dan waktu dengan modal playlist.
Saya jadi tahu, jarak dari kampus menuju rumah saya dengan menggunakan angkutan umum biru dan bus kota, ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 2 menit 25 detik..
Jarak dari kampus menuju rumah dengan menggunakan transmusi, angkutan patal, dan bus kota, ditempuh dalam waktu kurang lebih sama..
Proyek selanjutnya, mengukur jarak dan waktu dari kampus menuju ovm. Lalu dari rumah ke rumah tante yang ada di jakarta, kemudian ke bandung, kemudian ke singapura, kemudian keliling duniaaaa...
*mengkhayal lagi deh*
0
sixth sense
I'm wondering; what if..
Saya punya indera keenam,jd saya bs tau apa yg akan terjadi.apa yg akan terjadi kalau saya,kamu,dan dia berbincang. Apa yg akan terjadi jika saya berkata "a" atau "b"..
Mungkin saya tidak akan salah ngomong. Mungkin saya tidak akan mendapat kesulitan..
Mungkin.
Mungkin jg,saya bisa tau siapa yg bisa saya percaya dan siapa yg tidak.
Atau mungkin..saya akan sendiri.
Sahabat saya bilang; jangan biarkan dunia tau kalo kamu lagi susah.sesulit apapun.
Saat dia bilang; gunakan logikamu.jangan berlebihan dg perasaanmu.
Saat itu jg saya tau, saya bukan dia.
Saya pernah berharap jadi seperti dia. Tapi tidak ada pilihan lain.
Saya harap semuanya sempurna. Kehidupan, percintaan, keuangan, semuanya.
Tapi saya pikir, mungkin saya terlalu muluk.
Kesempurnaan hanya ada sama Tuhan,kan?
Dan saya harus merasa gagal yg saya tidak tahu apa fungsinya.
***
Pernah berpikir kalau kehidupan ini bersinambung?nyambung satu sama lain.
Mungkin kalau gagal,kamu sedang kehilangan satu mata rantainya, hei albert eintein!
Kejeniusan itu tidak pasti..satu-satunya yg pasti di dunia ini,cuma ketidakpastian.
Terserah deh ah,saya hanya berkhayal tiga hal itu; saya pny indera keenam, saya jadi dia, dan saya itu sempurna..
Yg jelas tidak akan terjadi.
Saya punya indera keenam,jd saya bs tau apa yg akan terjadi.apa yg akan terjadi kalau saya,kamu,dan dia berbincang. Apa yg akan terjadi jika saya berkata "a" atau "b"..
Mungkin saya tidak akan salah ngomong. Mungkin saya tidak akan mendapat kesulitan..
Mungkin.
Mungkin jg,saya bisa tau siapa yg bisa saya percaya dan siapa yg tidak.
Atau mungkin..saya akan sendiri.
Sahabat saya bilang; jangan biarkan dunia tau kalo kamu lagi susah.sesulit apapun.
Saat dia bilang; gunakan logikamu.jangan berlebihan dg perasaanmu.
Saat itu jg saya tau, saya bukan dia.
Saya pernah berharap jadi seperti dia. Tapi tidak ada pilihan lain.
Saya harap semuanya sempurna. Kehidupan, percintaan, keuangan, semuanya.
Tapi saya pikir, mungkin saya terlalu muluk.
Kesempurnaan hanya ada sama Tuhan,kan?
Dan saya harus merasa gagal yg saya tidak tahu apa fungsinya.
***
Pernah berpikir kalau kehidupan ini bersinambung?nyambung satu sama lain.
Mungkin kalau gagal,kamu sedang kehilangan satu mata rantainya, hei albert eintein!
Kejeniusan itu tidak pasti..satu-satunya yg pasti di dunia ini,cuma ketidakpastian.
Terserah deh ah,saya hanya berkhayal tiga hal itu; saya pny indera keenam, saya jadi dia, dan saya itu sempurna..
Yg jelas tidak akan terjadi.
bakat itu tak perlu ada
entah kenapa saya tidak percaya bakat..
saya lebih percaya dengan "rentang waktu untuk bisa"..
kemampuan individu yang diukur dari semangat.
kenapa harus ada batas waktu untuk berkarya sementara semangat untuk belajar masih ada?
sadar ataupun tidak, waktu itu yang membunuh semangat.
hanya karena saat ini kita tidak bisa, bukan berarti seterusnya kita tidak akan pernah bisa.
ya, karena selagi semangat ada, siapapun, apapun itu, akan tetap hidup.
selanjutnya serahkan denganNya.
saya lebih percaya dengan "rentang waktu untuk bisa"..
kemampuan individu yang diukur dari semangat.
kenapa harus ada batas waktu untuk berkarya sementara semangat untuk belajar masih ada?
sadar ataupun tidak, waktu itu yang membunuh semangat.
hanya karena saat ini kita tidak bisa, bukan berarti seterusnya kita tidak akan pernah bisa.
ya, karena selagi semangat ada, siapapun, apapun itu, akan tetap hidup.
selanjutnya serahkan denganNya.
berhenti. titik. stop. titik.
jika aku boleh memohon permintaan konyol kepada Tuhan
jika dunia belum berhenti berputar
jika jawaban atas pertanyaan ku belum jelas
aku hanya ingin..
Tuhan, tolong hentikan waktuku
hentikan komando dari otakku untuk memikirkan tepuk tangan dunia
hentikan darah dari hatiku untuk merasa perihnya ingatan
hentikan angan-angan ingin dan hasratku tentang kenyamanan bahu dan dada yang bidang
hentikan khayalku tentang rengkuh dan gandengan tangan seorang sahabat
hentikan semua..
hentikan semua..
hentikan semua yang membuat kesilauan..
hentikan semua yang menggebu dalam dada..
hentikan semua.
jika dunia belum berhenti berputar
jika jawaban atas pertanyaan ku belum jelas
aku hanya ingin..
Tuhan, tolong hentikan waktuku
hentikan komando dari otakku untuk memikirkan tepuk tangan dunia
hentikan darah dari hatiku untuk merasa perihnya ingatan
hentikan angan-angan ingin dan hasratku tentang kenyamanan bahu dan dada yang bidang
hentikan khayalku tentang rengkuh dan gandengan tangan seorang sahabat
hentikan semua..
hentikan semua..
hentikan semua yang membuat kesilauan..
hentikan semua yang menggebu dalam dada..
hentikan semua.
sapu lidi nenek
srek srek sreekkk..
aku terbangun di pagi buta karena suara sapu lidi nenek. jam setengah 6 pagi.
dengan mata yang sayup, masih separuh terpejam, aku paksakan bangun dari tempat tidurku yang nyaman.
"bukankah ini terlalu pagi untuk memulai aktivitasmu, nek?", ujarku sekena-nya, otakku belum mengumpul sepertinya.
"lalu pukul berapa harus ku memulai kegiatanku, cu?", sahutnya sambil tersenyum. khas.
aku mengucek mata dan berjalan menuju kamar mandi. shalat subuh, atau malah dhuha?
wanita itu sudah terlalu tua kala ku sambangi saat liburan dan lebaran ini. artinya, hanya dua kali dalam setahun aku mengunjunginya.
setelah menyapu, beliau mengambil capingnya dan berkata padaku, "nenek pergi ke ladang, kopi-kopi itu sudah waktunya dipanen." kembali ia tersenyum.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
aku tersentak ketika seseorang mengantarkan wanita yang kupanggil 'nenek' ke rumah, dalam keadaan terkilir. nenek tersenggol kayu bakar yang dibonceng pada motor seorang bapak. nenek terjatuh terduduk dan terkilir.
aku ingin marah. tapi rasa takutku lebih besar. nenekku yang renta, aku takut ada apa-apa, aku takut ia kehilangan nyawa. sungguh aku bukan menyumpah.
nenek bilang ia tak apa. sakitnya tak terlalu terasa. esok paginya, beliau masih bisa menyapu dengan sapu lidinya. membuatku sedikit lebih tenang.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
kini aku kembali ke kota kelahiranku. melakukan aktivitas biasa. bisa diartikan, terjaga hingga tengah malam dan tertidur saat pagi hari. sungguh berkebalikan. jam tubuh sedikit kacau sepertinya. tidak ada suara sapu lidi yang membangunkanku, atau kotoran burung yang mengotori sandal jepitku.
telepon dari rumah nenek. orang yang kami suruh untuk merawat nenek mengatakan bahwa beliau tak bisa memegang gunting lagi, nenek berjalan dengan menyeret kakinya, tangan kanannya tak bisa memegang punggung, dan tak bisa memegang sapunya. beliau terkena stroke dan darah tinggi sekaligus.
saat suara nenek terdengar di ujung telepon, kami mendengar beliau menangis.
ya Tuhan...
tekadku bulat, ia harus di bawa kemari. akan kami obati. akupuntur, jamu, pijat, kimia, semua yang alternatif atau medis. setelah mengetahui alasannya, ternyata 2 tahun yang lalu, saat beliau terjatuh, itu yang membuat beliau berjalan dengan menyeret.
nenekku yang renta, aku takut ada apa-apa, aku takut ia kehilangan nyawa. sungguh aku bukan menyumpah.
***
sebulan beliau disini. kami hentikan kegiatannya, kami gantikan dengan pengobatan total.
di tengah malam, kala mataku masih terjaga seperti biasa, ku dengar nenek berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu. lalu tenggelam dalam kekhusyukannya berkomunikasi dengan sang Tuhan.
di sela itu, kudengar tangisan nenek. nenek lelah. nenek ingin bergerak, berjalan, dan menyapu seperti biasa. tangisan nenek redup, sayup terganti dengan rintik hujan di malam itu.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
esoknya kuletakkan sapu lidi di halaman belakang. berharap nenek bisa melatih tangan, dan agar rindunya pada kampung halaman terobati. di sela perjalanan menuju kampus, ku telepon rumah dan menanyakan pada pembantuku apakah sapu lidi yang kuberikan dipakai oleh nenek. kudapati jawabannya; nenek sudah bisa memegang sapunya, sumringah, tapi kemudian beliau meletakkan kembali sapu lidinya. tidak ada yang bisa disapu di halaman kami yang sudah di semen. tidak ada pohon. tidak ada tanah, hanya debu.
nenek ingin pulang. nenek ingin meladang. ya, setelah pengobatan yang cukup lama, beliau merasa berkewajiban mengurus rumah peninggalan kakek buyutku. nenek ingin pulang.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai bersama kami, membiarkan kami menjagamu di umurmu yang telah sepuh ini?
***
berat hati mengantar beliau pulang. di rumah kakek buyutku hanya tinggal nenek seorang dan saudara kami yang memang telah lama kami minta untuk mengurus nenek. aku ingat saat beliau memberiku amplop putih kecil seraya berkata: "ini ada sedikit, untuk ongkosmu ke kampus."
beliau tahu, kampusku cukup jauh dijangkau dari rumah. beliau tahu, aku sering pulang malam hingga hanya bertemu dengannya saat tengah malam, ketika ia bersujud pada Ilahi. beliau tahu, aku sangat jarang menyentuh nasi.
kami jarang berbincang. tapi beliau tahu, beliau tahu, dan beliau pernah menangisi kekosongan hari-hari pengobatannya disini.
nenek, maaf.. sungguh kami memohon maaf mu..
bahkan saat terakhir engkau akan kembali, masih kurasakan kekakuan tanganmu. tanganmu yang hanya tulang berbalut kulit.
tak bisakah engkau berdiam disini saja, nek? aku berjanji akan lebih sering mengajakmu bicara. dan membiarkan engkau tertidur sambil mengigau.
***
srek srek sreekkk..
aku terbangun lagi di pagi buta. sapu lidi nenek.
aku melompat dari atas ranjang. membuka mata. kulihat nenek sudah disana, menyapu dengan sapu lidinya.
"tidak terlalu pagi untuk beraktivitas, nek?"
"apa ini tidak terlalu pagi untuk membangunkanmu?", beliau tersenyum. khas.
masih sama seperti yang dulu. mengambil caping dan memanen kopi di ladangnya.
kali ini beliau meninggalkan sepucuk kertas di meja makan. isinya: ini makan pagimu. jangan dirasa sebagai obat dan akupuntur. mereka lebih menyakitkan daripada sekadar membuka mulut dan makan.
aah, nenek. tetaplah membangunkanku dengan sapu lidimu ...
aku terbangun di pagi buta karena suara sapu lidi nenek. jam setengah 6 pagi.
dengan mata yang sayup, masih separuh terpejam, aku paksakan bangun dari tempat tidurku yang nyaman.
"bukankah ini terlalu pagi untuk memulai aktivitasmu, nek?", ujarku sekena-nya, otakku belum mengumpul sepertinya.
"lalu pukul berapa harus ku memulai kegiatanku, cu?", sahutnya sambil tersenyum. khas.
aku mengucek mata dan berjalan menuju kamar mandi. shalat subuh, atau malah dhuha?
wanita itu sudah terlalu tua kala ku sambangi saat liburan dan lebaran ini. artinya, hanya dua kali dalam setahun aku mengunjunginya.
setelah menyapu, beliau mengambil capingnya dan berkata padaku, "nenek pergi ke ladang, kopi-kopi itu sudah waktunya dipanen." kembali ia tersenyum.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
aku tersentak ketika seseorang mengantarkan wanita yang kupanggil 'nenek' ke rumah, dalam keadaan terkilir. nenek tersenggol kayu bakar yang dibonceng pada motor seorang bapak. nenek terjatuh terduduk dan terkilir.
aku ingin marah. tapi rasa takutku lebih besar. nenekku yang renta, aku takut ada apa-apa, aku takut ia kehilangan nyawa. sungguh aku bukan menyumpah.
nenek bilang ia tak apa. sakitnya tak terlalu terasa. esok paginya, beliau masih bisa menyapu dengan sapu lidinya. membuatku sedikit lebih tenang.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
kini aku kembali ke kota kelahiranku. melakukan aktivitas biasa. bisa diartikan, terjaga hingga tengah malam dan tertidur saat pagi hari. sungguh berkebalikan. jam tubuh sedikit kacau sepertinya. tidak ada suara sapu lidi yang membangunkanku, atau kotoran burung yang mengotori sandal jepitku.
telepon dari rumah nenek. orang yang kami suruh untuk merawat nenek mengatakan bahwa beliau tak bisa memegang gunting lagi, nenek berjalan dengan menyeret kakinya, tangan kanannya tak bisa memegang punggung, dan tak bisa memegang sapunya. beliau terkena stroke dan darah tinggi sekaligus.
saat suara nenek terdengar di ujung telepon, kami mendengar beliau menangis.
ya Tuhan...
tekadku bulat, ia harus di bawa kemari. akan kami obati. akupuntur, jamu, pijat, kimia, semua yang alternatif atau medis. setelah mengetahui alasannya, ternyata 2 tahun yang lalu, saat beliau terjatuh, itu yang membuat beliau berjalan dengan menyeret.
nenekku yang renta, aku takut ada apa-apa, aku takut ia kehilangan nyawa. sungguh aku bukan menyumpah.
***
sebulan beliau disini. kami hentikan kegiatannya, kami gantikan dengan pengobatan total.
di tengah malam, kala mataku masih terjaga seperti biasa, ku dengar nenek berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu. lalu tenggelam dalam kekhusyukannya berkomunikasi dengan sang Tuhan.
di sela itu, kudengar tangisan nenek. nenek lelah. nenek ingin bergerak, berjalan, dan menyapu seperti biasa. tangisan nenek redup, sayup terganti dengan rintik hujan di malam itu.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
esoknya kuletakkan sapu lidi di halaman belakang. berharap nenek bisa melatih tangan, dan agar rindunya pada kampung halaman terobati. di sela perjalanan menuju kampus, ku telepon rumah dan menanyakan pada pembantuku apakah sapu lidi yang kuberikan dipakai oleh nenek. kudapati jawabannya; nenek sudah bisa memegang sapunya, sumringah, tapi kemudian beliau meletakkan kembali sapu lidinya. tidak ada yang bisa disapu di halaman kami yang sudah di semen. tidak ada pohon. tidak ada tanah, hanya debu.
nenek ingin pulang. nenek ingin meladang. ya, setelah pengobatan yang cukup lama, beliau merasa berkewajiban mengurus rumah peninggalan kakek buyutku. nenek ingin pulang.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai bersama kami, membiarkan kami menjagamu di umurmu yang telah sepuh ini?
***
berat hati mengantar beliau pulang. di rumah kakek buyutku hanya tinggal nenek seorang dan saudara kami yang memang telah lama kami minta untuk mengurus nenek. aku ingat saat beliau memberiku amplop putih kecil seraya berkata: "ini ada sedikit, untuk ongkosmu ke kampus."
beliau tahu, kampusku cukup jauh dijangkau dari rumah. beliau tahu, aku sering pulang malam hingga hanya bertemu dengannya saat tengah malam, ketika ia bersujud pada Ilahi. beliau tahu, aku sangat jarang menyentuh nasi.
kami jarang berbincang. tapi beliau tahu, beliau tahu, dan beliau pernah menangisi kekosongan hari-hari pengobatannya disini.
nenek, maaf.. sungguh kami memohon maaf mu..
bahkan saat terakhir engkau akan kembali, masih kurasakan kekakuan tanganmu. tanganmu yang hanya tulang berbalut kulit.
tak bisakah engkau berdiam disini saja, nek? aku berjanji akan lebih sering mengajakmu bicara. dan membiarkan engkau tertidur sambil mengigau.
***
srek srek sreekkk..
aku terbangun lagi di pagi buta. sapu lidi nenek.
aku melompat dari atas ranjang. membuka mata. kulihat nenek sudah disana, menyapu dengan sapu lidinya.
"tidak terlalu pagi untuk beraktivitas, nek?"
"apa ini tidak terlalu pagi untuk membangunkanmu?", beliau tersenyum. khas.
masih sama seperti yang dulu. mengambil caping dan memanen kopi di ladangnya.
kali ini beliau meninggalkan sepucuk kertas di meja makan. isinya: ini makan pagimu. jangan dirasa sebagai obat dan akupuntur. mereka lebih menyakitkan daripada sekadar membuka mulut dan makan.
aah, nenek. tetaplah membangunkanku dengan sapu lidimu ...
memutar kembali sang nol
kenapa Tuhan menciptakan manusia, sementara tahu bahwa mereka nantinya akan mengingkari aturan-Nya?
kenapa Tuhan menganugerahi hawa nafsu, sementara tahu bahwa manusia bahkan kesulitan mengontrolnya?
kenapa bumi diciptakan, sementara nanti akan binasa?
seperti apa kehidupan kita selanjutnya?
akal pun tak kuasa menjangkaunya..
karena Dia begitu Maha, begitu profesional menunjukkan kemampuan-Nya dengan cara yang nyata tak mampu manusia menerka.
Dia begitu profesional untuk membuat kita mengakui-Nya.
begitu pula yang Ia berikan padaku.
Kehidupan semu yang sia di tanganku, yang kemudian kupikir, akan sangat hebat jika kuhabiskan dalam nyamannya goa ku. Aku akan kembali goaku..bersabarlah.
Aku keluar. Berusaha memutar kembali nol itu. Berusaha memperbaiki agar yang kosong menjadi terisi. Tapi nol tetaplah nol. tidak mungkin diabaikan, sekalipun ia membuat kekacauan logika.
Begitu profesionalnya Tuhan hingga memutar nol ku menjadi minus. Nol ku yang kuanggap berisi dengan kehidupan percintaan pada makhluk bernama manusia kemudian kandas. Dan jatuhlah aku.
Ia belum minus hingga bulan ketiga. Lalu mulai berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya mencapai tahun kedua. Minusnya makin besar, hingga aku tak menampungnya. Aku membuangnya. Hingga minus itu sama dengan kebrengsekannya. Tapi ia pernah berbuat baik padaku. Pernah memendungkan hari, pernah vertigo akibat terlalu banyak air mata, pernah sesak nafas karena bertengkar, pernah menawariku tumpangan yang kemudian kujadikan tempat bergantung. Aku tak sadar bahwa nol itu tak terlihat.
Nol pernah menginjakku. Nol pernah meremehkanku. Membuat aku menangis dan merasa tak perlu percaya Tuhan, Dia hanya menjadikanku bidak permainannya. Tuhan mempermainkanku.
Tapi nol juga pernah memberiku bahagia kan? Bukankah jika aku tak berangkat dari nol, aku tidak akan sampai ke angka 1,2,3 bahkan 4 dan seterusnya?
Biarlah nol menginjakku. Dan nol, membuatku sadar, aku bukan menangisi nol, atau bahkan memikirkan nol. Tapi aku menangisi kenyataan bahwa aku menginjak nol ku yang berisi. Lebih sakit daripada mengetahui bahwa nol ku adalah minus.
Nol.. nol.. nol..
Bertahanlah hingga aku menemukan rumus untuk membalikkan nilaimu. Lalu aku kembali ke goaku..
Hei minus, kau bukan tak bernilai. Tapi kau adalah angka yang nantinya paling akhir aku sebutkan.
Di lembar terima kasih.
*bukankah lebih baik salah besar daripada bermain aman,hei Nol?
kenapa Tuhan menganugerahi hawa nafsu, sementara tahu bahwa manusia bahkan kesulitan mengontrolnya?
kenapa bumi diciptakan, sementara nanti akan binasa?
seperti apa kehidupan kita selanjutnya?
akal pun tak kuasa menjangkaunya..
karena Dia begitu Maha, begitu profesional menunjukkan kemampuan-Nya dengan cara yang nyata tak mampu manusia menerka.
Dia begitu profesional untuk membuat kita mengakui-Nya.
begitu pula yang Ia berikan padaku.
Kehidupan semu yang sia di tanganku, yang kemudian kupikir, akan sangat hebat jika kuhabiskan dalam nyamannya goa ku. Aku akan kembali goaku..bersabarlah.
Aku keluar. Berusaha memutar kembali nol itu. Berusaha memperbaiki agar yang kosong menjadi terisi. Tapi nol tetaplah nol. tidak mungkin diabaikan, sekalipun ia membuat kekacauan logika.
Begitu profesionalnya Tuhan hingga memutar nol ku menjadi minus. Nol ku yang kuanggap berisi dengan kehidupan percintaan pada makhluk bernama manusia kemudian kandas. Dan jatuhlah aku.
Ia belum minus hingga bulan ketiga. Lalu mulai berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya mencapai tahun kedua. Minusnya makin besar, hingga aku tak menampungnya. Aku membuangnya. Hingga minus itu sama dengan kebrengsekannya. Tapi ia pernah berbuat baik padaku. Pernah memendungkan hari, pernah vertigo akibat terlalu banyak air mata, pernah sesak nafas karena bertengkar, pernah menawariku tumpangan yang kemudian kujadikan tempat bergantung. Aku tak sadar bahwa nol itu tak terlihat.
Nol pernah menginjakku. Nol pernah meremehkanku. Membuat aku menangis dan merasa tak perlu percaya Tuhan, Dia hanya menjadikanku bidak permainannya. Tuhan mempermainkanku.
Tapi nol juga pernah memberiku bahagia kan? Bukankah jika aku tak berangkat dari nol, aku tidak akan sampai ke angka 1,2,3 bahkan 4 dan seterusnya?
Biarlah nol menginjakku. Dan nol, membuatku sadar, aku bukan menangisi nol, atau bahkan memikirkan nol. Tapi aku menangisi kenyataan bahwa aku menginjak nol ku yang berisi. Lebih sakit daripada mengetahui bahwa nol ku adalah minus.
Nol.. nol.. nol..
Bertahanlah hingga aku menemukan rumus untuk membalikkan nilaimu. Lalu aku kembali ke goaku..
Hei minus, kau bukan tak bernilai. Tapi kau adalah angka yang nantinya paling akhir aku sebutkan.
Di lembar terima kasih.
*bukankah lebih baik salah besar daripada bermain aman,hei Nol?
HURRAY AND HIKS IT'S IDUL FITRI!!!!
iihh,,tanggal 11 september 2010. sekedar informasi, hari ini Lebaran ke-2 di Indonesia. ya, tanggal 10 september 2010 kemarin, kami umat muslim merayakan Idul Fitri. maka, masih dalam suasana yang berbahagia dan haru ini, si pengurus blog hendak memohon maaf lahir dan batin, juga mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. selamat merayakan hari raya idul fitri 1431 h bagi yang merayakan. dulu, saat saya masih berada di dalam goa saya yang nyaman, lebaran hanya berputar-putar di dalam imajinasi saya. waktu itu saya belum berani jujur pada diri saya, keluarga saya, terutama kepada ibu dan ayah saya, bahwa tahun lalu adalah tahun terburuk dan terberat untuk saya. ya, kesalahan dan dosa saya, yang tentunya saya buat sendiri, saya ukir sendiri, masih saya sembunyikan. saya terlalu malu untuk mengakui kalau saya ini kotor, banyak noda nya. tapi, setelah fase kotor itu lewat,
setelah berbagai cacian dan makian keluar dari berbagai mulut mereka yang mengenal saya,
juga setelah berbagai petunjuk yang Tuhan berikan untuk menyelesaikan masalah demi masalah...
akhirnya kata "maaf" itu keluar.
keluar begitu saja, bahkan diiringi dengan kucuran air mata, walaupun "maaf" itu bukan dalam momen Idul Fitri.
kemudian setelah momen yang saya tunggu ini datang, eehh.. orang tua dan keluarga saya pulang kampung. saya? memilih dirumah dengan segudang aktifitas tak berbobot ini, selain karena akomodasi yang tidak memungkinkan.
besok mereka pulang. saya tidak sabar untuk sungkem.
keluarga saya, tidak terlalu ambil pusing dengan tradisi "sungkem-sungkem"-an itu. menurut mereka, minta maaf yang penting dari hati, yang penting kamu dan saya merasakan kelegaan, plong, kosong, nol. itu saja. terserah caranya bagaimana, mau sungkem, sujud, cium tangan, sun pipi, peluk, atau apapun.
salah satu yang membuat saya kadang melupakan makna Lebaran dan merasa "Lebaran ya sama aja seperti hari biasa, bedanya ya semua keluarga datang, salam-salaman biasa sebodo amat mau dimaafin atau tidak, dan yang tua ngasih duit ke yang muda." itu tok.
makanya tahun ini, saya beneran mau duduk, sujud, cium kaki kedua orang tua. mudah-mudahan semangat sungkem saya masih ada sampai besok. hehe,,
walaupun Lebaran ini bisa dikatakan ancang-ancang saya untuk titik balik, namun saya masih merasa berada dalam goa.
semua dimudahkan dengan sms, facebook, twitter, plurk, bbm, atau apalah itu yang baunya digital. membuat saya jadi berpikir: "semua orang sms, nge-twit, ngasih ucapan di facebook, de el el. oke, kalo gitu, saya siapin kata2 di draft aja, biar bisa di kopi pas dan langsung dikirim berbarengan."
hahaha, semua jadi malas. kartu lebaran yang saya beli kemarin jadi tidak berguna, dan akhirnya membangkai saja di meja kerja. bener lho, saya beli amplop lebaran, yang orang2an di dalamnya bisa muncul saat dibuka. dan saat saya beli, sempat mikir juga sih, WEW..TERNYATA HARGANYA MAHAL YA?
di rumah saya juga tidak ada lagi kartu lebaran yang dikirim oleh teman-teman, semuanya lebih memilih yang digital itu, lebih murah katanya.
karena itu, saya lalu ikut-ikutan membuat gambar untuk ditag ke teman-teman saya di facebook..
awalnya saya cari photoshop di komputer saya, "lhoo, kok tidak ada?", kemudian saya langsung googling dan berharap menemukan satu gambar yang bagus untuk di share ke akun facebook. ternyata tidak ada. kemudian muncullah ide cemerlang semi digital di otak saya. ambil kertas, buat tulisan dengan spidol. di foto. dan voilaaa,, jadi deh. eh, kalau ditambahkan gambar, mungkin asik ya. ditambahin angka nol (0) saja deh, buat 3x.. nol nol nol.
taaagggg..done!
ada yang comment, ada yang nge-like doang. dan yang lucu, ada yang bertanya: "apa itu bulat2? kacang kedele ya?"
bwahahahaha..
ya ya ya, terserah deh. yang penting saya beneran minta maaf lho. saya berniat membersihkan diri.
dan mungkin begitu juga dengan teman-teman lainnya. walaupun kesannya malas dan ogah-ogahan untuk minta maaf, tapi yang penting gimana kitanya aja deh. bagaimana kita memaafkan kemalasan mereka, bagaimana kita memaafkan kesalahan mereka, dan bla bla bla nya.
saya maklum,,
mungkin mereka jauh, dan makan waktu jika harus mendatangi teman-temannya satu persatu untuk cipika cipiki bilang selamat lebaran.
mungkin mereka mudik, mungkin mereka lupa, atau apapun itu.
atau bahkan mungkin mereka memang tidak berniat meminta dan mengantar maaf.
saya maklum dan tolong saya dimaklumi dan dimaafin juga ya..
manusia kan tempatnya khilaf..
setelah berbagai cacian dan makian keluar dari berbagai mulut mereka yang mengenal saya,
juga setelah berbagai petunjuk yang Tuhan berikan untuk menyelesaikan masalah demi masalah...
akhirnya kata "maaf" itu keluar.
keluar begitu saja, bahkan diiringi dengan kucuran air mata, walaupun "maaf" itu bukan dalam momen Idul Fitri.
kemudian setelah momen yang saya tunggu ini datang, eehh.. orang tua dan keluarga saya pulang kampung. saya? memilih dirumah dengan segudang aktifitas tak berbobot ini, selain karena akomodasi yang tidak memungkinkan.
besok mereka pulang. saya tidak sabar untuk sungkem.
keluarga saya, tidak terlalu ambil pusing dengan tradisi "sungkem-sungkem"-an itu. menurut mereka, minta maaf yang penting dari hati, yang penting kamu dan saya merasakan kelegaan, plong, kosong, nol. itu saja. terserah caranya bagaimana, mau sungkem, sujud, cium tangan, sun pipi, peluk, atau apapun.
salah satu yang membuat saya kadang melupakan makna Lebaran dan merasa "Lebaran ya sama aja seperti hari biasa, bedanya ya semua keluarga datang, salam-salaman biasa sebodo amat mau dimaafin atau tidak, dan yang tua ngasih duit ke yang muda." itu tok.
makanya tahun ini, saya beneran mau duduk, sujud, cium kaki kedua orang tua. mudah-mudahan semangat sungkem saya masih ada sampai besok. hehe,,
walaupun Lebaran ini bisa dikatakan ancang-ancang saya untuk titik balik, namun saya masih merasa berada dalam goa.
semua dimudahkan dengan sms, facebook, twitter, plurk, bbm, atau apalah itu yang baunya digital. membuat saya jadi berpikir: "semua orang sms, nge-twit, ngasih ucapan di facebook, de el el. oke, kalo gitu, saya siapin kata2 di draft aja, biar bisa di kopi pas dan langsung dikirim berbarengan."
hahaha, semua jadi malas. kartu lebaran yang saya beli kemarin jadi tidak berguna, dan akhirnya membangkai saja di meja kerja. bener lho, saya beli amplop lebaran, yang orang2an di dalamnya bisa muncul saat dibuka. dan saat saya beli, sempat mikir juga sih, WEW..TERNYATA HARGANYA MAHAL YA?
di rumah saya juga tidak ada lagi kartu lebaran yang dikirim oleh teman-teman, semuanya lebih memilih yang digital itu, lebih murah katanya.
karena itu, saya lalu ikut-ikutan membuat gambar untuk ditag ke teman-teman saya di facebook..
awalnya saya cari photoshop di komputer saya, "lhoo, kok tidak ada?", kemudian saya langsung googling dan berharap menemukan satu gambar yang bagus untuk di share ke akun facebook. ternyata tidak ada. kemudian muncullah ide cemerlang semi digital di otak saya. ambil kertas, buat tulisan dengan spidol. di foto. dan voilaaa,, jadi deh. eh, kalau ditambahkan gambar, mungkin asik ya. ditambahin angka nol (0) saja deh, buat 3x.. nol nol nol.
taaagggg..done!
ada yang comment, ada yang nge-like doang. dan yang lucu, ada yang bertanya: "apa itu bulat2? kacang kedele ya?"
bwahahahaha..
ya ya ya, terserah deh. yang penting saya beneran minta maaf lho. saya berniat membersihkan diri.
dan mungkin begitu juga dengan teman-teman lainnya. walaupun kesannya malas dan ogah-ogahan untuk minta maaf, tapi yang penting gimana kitanya aja deh. bagaimana kita memaafkan kemalasan mereka, bagaimana kita memaafkan kesalahan mereka, dan bla bla bla nya.
saya maklum,,
mungkin mereka jauh, dan makan waktu jika harus mendatangi teman-temannya satu persatu untuk cipika cipiki bilang selamat lebaran.
mungkin mereka mudik, mungkin mereka lupa, atau apapun itu.
atau bahkan mungkin mereka memang tidak berniat meminta dan mengantar maaf.
saya maklum dan tolong saya dimaklumi dan dimaafin juga ya..
manusia kan tempatnya khilaf..
Langganan:
Komentar (Atom)
Diposting oleh


