kenapa Tuhan menciptakan manusia, sementara tahu bahwa mereka nantinya akan mengingkari aturan-Nya?
kenapa Tuhan menganugerahi hawa nafsu, sementara tahu bahwa manusia bahkan kesulitan mengontrolnya?
kenapa bumi diciptakan, sementara nanti akan binasa?
seperti apa kehidupan kita selanjutnya?
akal pun tak kuasa menjangkaunya..
karena Dia begitu Maha, begitu profesional menunjukkan kemampuan-Nya dengan cara yang nyata tak mampu manusia menerka.
Dia begitu profesional untuk membuat kita mengakui-Nya.
begitu pula yang Ia berikan padaku.
Kehidupan semu yang sia di tanganku, yang kemudian kupikir, akan sangat hebat jika kuhabiskan dalam nyamannya goa ku. Aku akan kembali goaku..bersabarlah.
Aku keluar. Berusaha memutar kembali nol itu. Berusaha memperbaiki agar yang kosong menjadi terisi. Tapi nol tetaplah nol. tidak mungkin diabaikan, sekalipun ia membuat kekacauan logika.
Begitu profesionalnya Tuhan hingga memutar nol ku menjadi minus. Nol ku yang kuanggap berisi dengan kehidupan percintaan pada makhluk bernama manusia kemudian kandas. Dan jatuhlah aku.
Ia belum minus hingga bulan ketiga. Lalu mulai berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya mencapai tahun kedua. Minusnya makin besar, hingga aku tak menampungnya. Aku membuangnya. Hingga minus itu sama dengan kebrengsekannya. Tapi ia pernah berbuat baik padaku. Pernah memendungkan hari, pernah vertigo akibat terlalu banyak air mata, pernah sesak nafas karena bertengkar, pernah menawariku tumpangan yang kemudian kujadikan tempat bergantung. Aku tak sadar bahwa nol itu tak terlihat.
Nol pernah menginjakku. Nol pernah meremehkanku. Membuat aku menangis dan merasa tak perlu percaya Tuhan, Dia hanya menjadikanku bidak permainannya. Tuhan mempermainkanku.
Tapi nol juga pernah memberiku bahagia kan? Bukankah jika aku tak berangkat dari nol, aku tidak akan sampai ke angka 1,2,3 bahkan 4 dan seterusnya?
Biarlah nol menginjakku. Dan nol, membuatku sadar, aku bukan menangisi nol, atau bahkan memikirkan nol. Tapi aku menangisi kenyataan bahwa aku menginjak nol ku yang berisi. Lebih sakit daripada mengetahui bahwa nol ku adalah minus.
Nol.. nol.. nol..
Bertahanlah hingga aku menemukan rumus untuk membalikkan nilaimu. Lalu aku kembali ke goaku..
Hei minus, kau bukan tak bernilai. Tapi kau adalah angka yang nantinya paling akhir aku sebutkan.
Di lembar terima kasih.
*bukankah lebih baik salah besar daripada bermain aman,hei Nol?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diposting oleh




0 komentar:
Posting Komentar