srek srek sreekkk..
aku terbangun di pagi buta karena suara sapu lidi nenek. jam setengah 6 pagi.
dengan mata yang sayup, masih separuh terpejam, aku paksakan bangun dari tempat tidurku yang nyaman.
"bukankah ini terlalu pagi untuk memulai aktivitasmu, nek?", ujarku sekena-nya, otakku belum mengumpul sepertinya.
"lalu pukul berapa harus ku memulai kegiatanku, cu?", sahutnya sambil tersenyum. khas.
aku mengucek mata dan berjalan menuju kamar mandi. shalat subuh, atau malah dhuha?
wanita itu sudah terlalu tua kala ku sambangi saat liburan dan lebaran ini. artinya, hanya dua kali dalam setahun aku mengunjunginya.
setelah menyapu, beliau mengambil capingnya dan berkata padaku, "nenek pergi ke ladang, kopi-kopi itu sudah waktunya dipanen." kembali ia tersenyum.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
aku tersentak ketika seseorang mengantarkan wanita yang kupanggil 'nenek' ke rumah, dalam keadaan terkilir. nenek tersenggol kayu bakar yang dibonceng pada motor seorang bapak. nenek terjatuh terduduk dan terkilir.
aku ingin marah. tapi rasa takutku lebih besar. nenekku yang renta, aku takut ada apa-apa, aku takut ia kehilangan nyawa. sungguh aku bukan menyumpah.
nenek bilang ia tak apa. sakitnya tak terlalu terasa. esok paginya, beliau masih bisa menyapu dengan sapu lidinya. membuatku sedikit lebih tenang.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
kini aku kembali ke kota kelahiranku. melakukan aktivitas biasa. bisa diartikan, terjaga hingga tengah malam dan tertidur saat pagi hari. sungguh berkebalikan. jam tubuh sedikit kacau sepertinya. tidak ada suara sapu lidi yang membangunkanku, atau kotoran burung yang mengotori sandal jepitku.
telepon dari rumah nenek. orang yang kami suruh untuk merawat nenek mengatakan bahwa beliau tak bisa memegang gunting lagi, nenek berjalan dengan menyeret kakinya, tangan kanannya tak bisa memegang punggung, dan tak bisa memegang sapunya. beliau terkena stroke dan darah tinggi sekaligus.
saat suara nenek terdengar di ujung telepon, kami mendengar beliau menangis.
ya Tuhan...
tekadku bulat, ia harus di bawa kemari. akan kami obati. akupuntur, jamu, pijat, kimia, semua yang alternatif atau medis. setelah mengetahui alasannya, ternyata 2 tahun yang lalu, saat beliau terjatuh, itu yang membuat beliau berjalan dengan menyeret.
nenekku yang renta, aku takut ada apa-apa, aku takut ia kehilangan nyawa. sungguh aku bukan menyumpah.
***
sebulan beliau disini. kami hentikan kegiatannya, kami gantikan dengan pengobatan total.
di tengah malam, kala mataku masih terjaga seperti biasa, ku dengar nenek berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu. lalu tenggelam dalam kekhusyukannya berkomunikasi dengan sang Tuhan.
di sela itu, kudengar tangisan nenek. nenek lelah. nenek ingin bergerak, berjalan, dan menyapu seperti biasa. tangisan nenek redup, sayup terganti dengan rintik hujan di malam itu.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai dirumah di umurmu yang telah sepuh ini?
***
esoknya kuletakkan sapu lidi di halaman belakang. berharap nenek bisa melatih tangan, dan agar rindunya pada kampung halaman terobati. di sela perjalanan menuju kampus, ku telepon rumah dan menanyakan pada pembantuku apakah sapu lidi yang kuberikan dipakai oleh nenek. kudapati jawabannya; nenek sudah bisa memegang sapunya, sumringah, tapi kemudian beliau meletakkan kembali sapu lidinya. tidak ada yang bisa disapu di halaman kami yang sudah di semen. tidak ada pohon. tidak ada tanah, hanya debu.
nenek ingin pulang. nenek ingin meladang. ya, setelah pengobatan yang cukup lama, beliau merasa berkewajiban mengurus rumah peninggalan kakek buyutku. nenek ingin pulang.
aah, nenek. tak bisakah engkau duduk bersantai bersama kami, membiarkan kami menjagamu di umurmu yang telah sepuh ini?
***
berat hati mengantar beliau pulang. di rumah kakek buyutku hanya tinggal nenek seorang dan saudara kami yang memang telah lama kami minta untuk mengurus nenek. aku ingat saat beliau memberiku amplop putih kecil seraya berkata: "ini ada sedikit, untuk ongkosmu ke kampus."
beliau tahu, kampusku cukup jauh dijangkau dari rumah. beliau tahu, aku sering pulang malam hingga hanya bertemu dengannya saat tengah malam, ketika ia bersujud pada Ilahi. beliau tahu, aku sangat jarang menyentuh nasi.
kami jarang berbincang. tapi beliau tahu, beliau tahu, dan beliau pernah menangisi kekosongan hari-hari pengobatannya disini.
nenek, maaf.. sungguh kami memohon maaf mu..
bahkan saat terakhir engkau akan kembali, masih kurasakan kekakuan tanganmu. tanganmu yang hanya tulang berbalut kulit.
tak bisakah engkau berdiam disini saja, nek? aku berjanji akan lebih sering mengajakmu bicara. dan membiarkan engkau tertidur sambil mengigau.
***
srek srek sreekkk..
aku terbangun lagi di pagi buta. sapu lidi nenek.
aku melompat dari atas ranjang. membuka mata. kulihat nenek sudah disana, menyapu dengan sapu lidinya.
"tidak terlalu pagi untuk beraktivitas, nek?"
"apa ini tidak terlalu pagi untuk membangunkanmu?", beliau tersenyum. khas.
masih sama seperti yang dulu. mengambil caping dan memanen kopi di ladangnya.
kali ini beliau meninggalkan sepucuk kertas di meja makan. isinya: ini makan pagimu. jangan dirasa sebagai obat dan akupuntur. mereka lebih menyakitkan daripada sekadar membuka mulut dan makan.
aah, nenek. tetaplah membangunkanku dengan sapu lidimu ...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diposting oleh




0 komentar:
Posting Komentar