"iya, tunggu nanti ya, kalo ibu punya uang", sahut ibuku, tidak menanggapi terlalu jauh.
tapi aku tau ibuku memikirkan bagaimana caranya agar dapat memenuhi kemauanku.
kemudian di ulang tahunku yang ke-20, sebuah honda civic hijau pupus terpampang di depan halaman rumahku. entah bagaimana ceritanya, mobil itu hadir untuk menemaniku dalam kesendirian. kesendirianku dalam perjalanan pulang dari kampus dan kemandirian untuk bepergian kemanapun yang aku mau.
memang setelah tidak lagi berhubungan dengan "lelaki yang tidak boleh disebutkan namanya itu", aku mengalami krisis percaya diri, enggan bepergian kemana saja, dan tidak mau bersosialisasi dengan siapapun.
dulu, kemanapun aku ingin pergi, dia yang selalu menyediakan motor hijaunya untuk aku tunggangi. dan dia pula yang selalu meluangkan waktu untuk menemaniku menghitung orang "berkaus pasangan" di keramaian pusat perbelanjaan. kemanapun aku pergi, dia ada disampingku. dan betapa aku mengingat, setiap pusat perbelanjaan yang kami datangi, tak pernah luput dari ceritera pertengkaran dan senyuman kami saat itu.
dan sekarang, disinilah aku dengan kenyamanan mobil ini. tidak ada lagi hujan yang membuatku menggigil, tidak ada lagi panas matahari yang menyengat kulitku.
semua lagu cengeng keluaran produk dalam negeri telah aku singkirkan. tak mudah memang, tapi sekarang aku beralih ke lagu-lagu yang bahkan aku tidak mengerti makna liriknya, atau dendang syairnya. semua berubah dan menjadi lebih sepi. tapi aku mulai terbiasa. dunia ku berubah. aku mulai terbiasa pergi sendiri, dan keluar hingga larut bersama temanku. atau bahkan orang yang baru ku kenal..
di mobil ini, aku menemukan dunia baruku. di mobil ini, aku merajut kehidupan sepiku.
hingga akhirnya..
pada 16.30, saat mentari sore terbenam, saat hujan mengguyur perjalanan pulangku, alunan lagu itu..
di rentang waktu yang berjejal dan memburai,
Kau berikan,
sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
di gigir yang curam dan dunia tertinggal kala membeku
sungguh,
peta melesap dan udara yang terbakar jauh
kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
seperti takkan pernah pulang..
Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
seperti takkan pernah pulang..
ketuk langkahmu menarilah jauh di udara
aku melihat sosok kita berdua, melintas dijalan itu.
dengan motor yang sama, berdua, basah terkena hujan dan menggigil kedinginan..
aku melihat sosok kita berdua, berpeluk dalam rintik hujan.
menghangatkan satu dan lainnya, dan berusaha menghindar jika mobil-mobil mendekat dan menyipratkan genangan air..
kemudian..
kilatan cahaya putih itu..
menyilaukan aku.
dan ketika aku tersadar, tidak ada kau disana. tidak ada KITA disana.
"hei,mengapa orang itu berkerumun??", ujarku tanpa berharap jawaban. siapa yang akan menjawab jika ku sendiri dalam kendaraan ini.
ku tepikan mobil dan menghampiri mereka. sebuah mobil menaiki trotoar dan mengembuskan asap dari kap depannya.
aku melihat..
jasad perempuan bersimbah darah segar yang belum berani disentuh oleh siapapun.
ada kau menghampirinya yang dengan panik berusaha menggedor kaca mobilnya, berharap perempuan itu membuka mata. ya, itu kau. aku mengenal bunyi knalpot motormu. aku hapal wangi tubuhmu. itu kau..
dan perempuan itu.
perempuan itu aku..
Diposting oleh




0 komentar:
Posting Komentar