wahai imaji yang bersemayam dalam hati..
mengapa ia datang membayangiku?
bagai akar yang setia menopang sang batang
atau embun yang membasahi tiap helai daun di pagi harinya..
wahai lelaki yang pernah singgah disini..
mengapa tak jua kau pergi dari ingatanku?
saat engkau mulai menghapus goresan pasirku dengan riak ombakmu,
aku disini sendiri, mengukir pedihnya rasa di naungan mentari sore
taukah engkau hei bintang,
aku tau kau tak lagi mampu bersinar, dan akupun tidak lagi menjadi purnamamu
dan engkau memutuskan untuk mencari siapa bulanmu, meninggalkan aku sendiri
dan sejak saat itu pula hujan selalu menjuntai malamku
tapi ingatlah bintangku,
janji setiamu pada angkasa untuk selalu berputar dan menemani hadirnya bulan
hanya tersimpan rapat dalam bayanganku, dalam imajinasiku
yang menyisakan rasa sakit kala sadar bahwa kau tak lagi mengindahkannya
tak lagi mengindahkan imajinasiku
tak lagi menyisakan cerita cinta dalam rapuhnya malam ku
kesedihan dalam khilafku ini,
mencoba berlari dalam jarak sajak yang tak pernah kau mengerti..
karena toh kau memang bukan bintang.
bintang tak mungkin tak setia, bintang tak mungkin hilang dalam dimensi
bintang tak mungkin enyah dari pandangan kala bulan merasa jenuh menggantungi malam
larilah hei batu! lari!
cobalah berlari dari pandanganku!
aku ini di langit, dan kau di tanah.
dasar tak tau diri!
kamu itu tikus disarang ular yang sedang kenyang.
yang perlu kamu lakukan hanya duduk menunggu giliranmu untuk dimakan.
selama waktu itu, ku persilakan kau untuk bermain sejenak dengan tikus-tikus lainnya
beranak pinaklah, dan aku akan terus kenyang.
itu pun jika ku sudi memakan daging mu.
atau kubiarkan saja Tuhan yang mengambil nyawamu?
ahh,,bangkai yang berserakan..
Diposting oleh




0 komentar:
Posting Komentar