ada kalanya kita merasa sendiri di dunia ini..
tapi ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan itu nyata dan selalu menemani kita walaupun kita bahkan sering mengabaikannya.
saat pertama kali temanku bercerita mengenai keputusannya untuk bercerai, satu hal yang terbersit di pikiranku. adalah bahwa aku tidak bisa memberikan saran apapun padanya.
dari sini lah cerita itu dimulai..
suaminya, sangat mencintainya laksana samurai yang selalu diasah. begitupun dengan dirinya. ia mencintai suaminya layaknya daun yang selalu menggantung pada dahannya.
usia berpacaran mereka yang terbilang lama, dan umur mereka yang masih terbilang labil membuat hubungan percintaan yang mereka bangun hanya manis pada awalnya saja.
satu tahun mereka menikah, mereka sepakat untuk menunda adanya anak-anak dalam kehidupan mereka. agaknya mereka masih ingin berdua dan menunjukkan sisi romantis mereka satu sama lainnya. namun ternyata, tiga bulan pertama, biduk cinta mereka mulai gonjang ganjing. mereka berdua memang masih hidup menumpang pada orang tua pria. tetapi temanku yang merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, tampaknya lebih menyukai untuk tinggal dirumah orang tuanya. sehingga sang suami acap kali pusing mengenai pembagian jatah menginap ini. bukan hanya si suami yang memikirkan, tapi temanku pun sering merasa tak enak jika mereka harus menginap seminggu dirumah orangtuanya. namun sayangnya, suaminya menganggap bahwa si istri terlalu manja. jadilah, sang suami terkadang tidak menggubris keinginan sang istri yang ingin berkumpul pula dengan keluarganya. suaminya menjadi terlalu cuek dan lebih mementingkan keluarganya sendiri dibandingkan keluarga istrinya.
bukankah keluarga istri juga merupakan keluarga bagi suami?
*** bersambung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diposting oleh




0 komentar:
Posting Komentar