Pacaran itu membingungkan. Temanku yang bilang. Kami cuma manusia, yang banyak terpengaruh zaman tapi berusaha memperbaiki iman. Entah bagaimana kejadian sebelumnya, temanku bertemu kembali dengan mantannya. Setelah pertemuan itu, sayang yang dulu memudar kembali lagi. Pendek kata, mereka merangkai kembali rasa yang dulu menghilang bagai setetes air di batu yang kering.
Berawal dari jalinan itu, temanku menaruh kembali harapan dan cita yang tinggi kepadanya. Berpegang kembali pada sayapnya. Dan menggenggam erat rasa itu di hatinya. Namun tak jauh dari ikrar hubungan mereka, kejujuran mulai diterapkan. Hubungan lain masih terjuntai antara sang pacar dan orang lain, dan itu meluncur sendiri dari bibirnya, tanpa pertanyaan dan pernyataan sebelumnya.
Melelehlah hati temanku, belum hancur tapi menuju keterpurukan. Bagai tersapu ombak lautan saat mendengar orang yang telah ia percaya membiuskan kata mendua. Kejujuran terkadang menyakitkan. Tapi tak ada yang akan menghargai sebuah kebohongan, terlebih kebenaran yang terungkap dari mulut orang lain.
Setiap malam yang ia lalui menghembuskan angin sunyi yang hampa menusuk. Sampai akhirnya ia bercerita padaku. Aku mengatakan padanya bahwa tidak ada gunanya meminta saranku. Aku takkan memberi solusi yang tepat. Di tengah kegelisahannya ia berkata, "aku hanya ingin bercerita dan berbgai beban padamu. Karena kau tidak mengetahui siapa orang yang menyakiti hatiku." Ketulusan cintanya membuatku sadar bahwa cinta itu hakiki bagi yang sungguh menjalaninya. Walaupun akan sangat sakit ketika kita terbangun dan mendapati cinta itu hilang setelah berbulan kita mendampinginya. Kukatakan ia harus segera menemuinya dan membicarakannya secara teratur. Bertiga.
Mereka berhadap-hadapan disebuah tempat makan sekarang. Dan dengan lancar ia menjelaskan perasaannya saat ini, menyertakan tuntutan penjelasan atas siapa yang akan dipilih oleh pacarnya merangkap kekasih orang lain. Detik itu juga, objek dari ujian itu meneteskan air mata. Memilih temanku untuk jadi pendampingnya dan bersedia melepaskan sisi lain dari hatinya. Sungguh telah kuduga itu akan terjadi dan menimbulkan ujian lainnya. "Sisi lain dari hati pacar temanku", tidak kuasa menerima keputusan, memohon untuk tidak dilepaskan. Dan menangis. Situasi serba sulit menyelimuti tempat mereka bertemu.
Di tengah kegalauan yang terjadi, temanku terpaku. Terdesak pula dengan permohonan "sisi lain dari hati pacarnya" untuk merelakan objek ujian berdampingan dengan objek penderita. Jauh diluar kendali. Akhirnya temanku berkeputusan bahwa ketulusan cinta yang dimiliki seorang "sisi lain" itu lebih besar dari yang dimilikinya. Dan merelakan sang tambatan hati pergi bersama yang lain. Dan ia berlalu, namun cerita ini belum berakhir.
Seperti yang terjadi di film kan? Postingku yang sebelumnya pun telah berkata bahwa aku pecandu film dan pemimpi. Tapi ini kenyataan, dan sungguh tak akan sanggup aku memimpikan kejadian ini. Semua realita cinta ini akan terus berlanjut selama kita bermain dan menjadi temannya.
Kejadian romantis juga melumuri cerita ini. Objek ujian ini berusaha menghindari kenyataan dan menghambur berlari ke sebuah lokasi yang tak jauh dari tempat mereka bertemu. Temanku yang merasa penat dengan masalah ini memproses ulang setiap detik yang telah berlalu dan mengatakan kepada "sisi lain" untuk menemukan sang objek ujian dan membawanya pulang, karena tanggung jawab yang dimilikinya telah terlepas sejauh ini.
Menit berganti jam. Temanku terdampar diruang sempit dalam hatinya. Merenung hening tanpa tangisan. Mencoba tegar dan berbangga telah berjiwa besar. Namun kesalahan yang telah diperbuatnya belum ia sadari. Menghempaskan hati pacarnya, tidak menghormati keputusannya dan membela orang yang telah menyakiti dirinya. Lamunannya buyar saat menerima kabar, pacar (mantan) nya tidak ditemukan. Menghilang dalam kerumunan, tampa uang sepeser pun dan tidak dapat dihubungi. Paling tidak, itu yang dikatakan oleh "sisi lain".
Temanku mencoba tenang. Lalu menghubungi lewat gadget yang ia punya. Komunikasi terhubung dan membujuk, agar "yang dihubungi" menghentikan tingkahnya yang membuat semua orang panik. Objek ujian lalu menangis dan menginginkan temanku menjemputnya, dan takkan pulang kerumah bila keinginannya tidak dituruti. Marah, kesal, haru dan sedih bercampur. Teraduk bagai double espresso yang tidak diberi gula setetes pun. Dengan terpaksa temanku mengantarkan mantannya kembali ke peraduan setelah menanyakan posisinya.
Dalam perjalanan pulang, hujan mengguyur karena memang sedang musim hujan, tapi karena mungkin masalah ini belum selesai, maka bisa dikatakan air yang tumpah dari langit itu mengiringi kesedihan yang mereka alami. Sekali lagi, ini bukan cerita novel. Dan aku bukan tipe pembual yang mengada-ada. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku berani membuktikan. Menyangkut harga diri temanku dan pacar (mantan) nya, aku harus merahasiakan identitas mereka. Karena aku harus bertanggungjawab dengan ucapan dan janjiku. Dengan motor yang ia punya, lalu temanku mengantarkannya kembali ke rumah. Dan sekali lagi objek ujian itu menangis. MElingkarkan tangannya ke pinggang temanku seraya bertanya mengapa temanku tak menghargai keputusannya. Mengapa semua harus terjadi disaat ia merasa cinta yang sesungguhnya. Mengapa ia haus tersandung masalah yang merenggut kebahagiaan yang belum sempat ia rasakan. Juga mengapa temanku tega menyakitinya. Apa semua berarti bahwa temanku tak mencintainya. Bertanya apa sesungguhnya salahnya kepada Sang Pencipta? Dan segudang penyesalan takdir dan nasib yang sesungguhnya ia ciptakan sendiri. Tanpa disadari oleh sang objek, bahwa ia telah membawa temanku ke masalah yang ditimbulkannya. Banyak kerugian mendera temanku. Rugi waktu, rugi uang, dan korban perasaan.
Sesampainya temanku mengantarkan "anak hilang" itu, sang kekasih mantan hanya mempu berkata terima kasih. Darah memuncak ke kepala temanku. Pertempuran singkat sempat terjadi di ruang yang tidak bisa dikatakan arena tinju. Siapapun akan marah, bila oarng yang diberi tanggung jawab malah mengecewakan. Apalagi mengenai nyawa seseorang. Betapa bodoh kekasih mantan itu, dilokasi sekecil itu, ia tak mampu menemukan sosok orang yang katanya "sangat dicintai".
Hal itu membuatku berpikir, teman, apakah kau tidak salah? Memberikan orang yang disayangi kepada sosok orang yang tidak mempu melindunginya?
Masa belajar mantan temanku telah habis, dan ia akan menjalani wisuda. Hari dimana seharusnya ia berbahagia dengan kelulusannya dalam ujian pendidikan dan dengan orang-orang yang disayanginya.Temanku menerima undangan itu, tapi ia tidak akan muncul lagi dihadapan pacar atau mantannya itu (aku kehabisan kata untuk menyebutnya). Menghormati kekasih mantan pacarnya itu dan bingung apakah kehadirannya sungguh diperlukan. Juga karena sehari sebelumnya, kekasih mantan pacarnya mengatakan bahwa si objek telah mampu menguasai keadaan dan bahagia dengan "orang yang dulu dikatakan sebagai sisi lain". Walau belum dapat direalisasikan ke dalam bentuk pernikahan atau pertunangan.
Temanku rela dan bersedia memutuskan hubungan komunikasi dengan sang mantan. Tidak sms, telepon atau membalas kata-kata yang dilontarkan oleh sang mantan, dan kekasihnya. Tanpa ada penyesalan dan air mata.
Bisakah kau bayangkan, apa yang membuatnya setega dan setegar itu? Ini adalah ujian yang butuh jawaban. Aku menjawab ketulusan. Tapi jawaban lain yang terlontar dari mulutnya, "karena sesungguhnya aku tidak akan mencintai seseorang dengan mudah tanpa pernah berusaha mendapatkannya. Karena cinta bukan hadiah, tapi hidayah yang membutuhkan perjuangan dan kepercayaan dalam pencapaiannya." Jawabannya tepat 100%. Dan ia lulus dalam ujian ini, juga naik ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi.
Dan pertanyaanku tertuju pada sang mantan, apa kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang? "Aku hanya berbahagia dalam kebohongan, membahagiakan orang lain dalam kebohongan, dan merelakan cinta karena kebohongan."
"Dan akan tiba saat aku melepas cinta dengan kejujuran, mengejar orang yang kucinta dengan kejujuran, dan bahagia karena kejujuran, tanpa air mata."
Palembang, 11 Januari 2008
10.59
10.59
Diposting oleh




0 komentar:
Posting Komentar